Prosedur Transplantasi Paru

Transplantasi paru adalah prosedur pembedahan untuk mengganti paru-paru penerima pasien yang sudah rusak dengan paru-paru yang sehat dari donor. Transplantasi paru dapat dilakukan pada salah satu ataupun kedua paru. Individu yang membutuhkan transplantasi paru umumnya sudah mengalami kerusakan di kedua paru sehingga sudah sulit diterapi dengan obat-obatan lagi. Untuk pasien anak yang ukuran parunya juga masih kecil maka bisa menggunakan dua donor dewasa yang diambil sebagian parunya. Untuk orang dewasa pengambilan paru dalam jumlah ini tidak terlalu bermasalah. Untuk transplantasi pada pasien dewasa membutuhkan paru yang lebih besar sehingga hanya bisa dilakukan dengan donor dari pasien mati batang otak. Hal ini karena pengambilan paru dalam jumlah itu, akan mengganggu bahkan menyebabkan kematian pada donor.

Prosedur transplantasi paru pada dasarnya terbagi menjadi dua operasi yaitu pengambilan organ donor dan penanaman organ pada resipien. Pada donor mati batang otak terkadang organ harus diambil dari rumah sakit lain. Setelah itu organ dibawa ke rumah sakit tempat resipien untuk ditanam.

Sebelum dilakukan transplantasi paru, calon resipien perlu melewati beberapa pemeriksaan dan konsultasi, meliputi tingkat keparahan penyakit paru dan status kesehatan secara keseluruhan, hingga kesiapan emosional dan social dari calon resipien dalam menjalani transplantasi paru. Setelah dilakukan konsultasi mengenai manfaat, risiko dan alternatif lainnya, calon resipien akan menandatangani persetujuan tertulis untuk menjalani transplantasi paru.

Di ruangan operasi, resipien akan dibuat tertidur menggunakan anestesi (bius) umum dan akan tetap dalam keadaan terbius sepenuhnya selama prosedur pembedahan. Resipien akan dipasangkan alat bantu napas (ventilator), dengan cara memasukkan selang napas melalui mulut hingga ke dalam saluran napas yang kemudian dipasangkan ke mesin untuk membantu resipien bernapas selama pembedahan. Untuk menstabilkan tanda-tanda vital seperti oksigenasi dan tekanan darah maka alat lain akan diperlukan yaitu ECMO (Extra Corporeal Membrane oxygenator) atau bahkan mesin pintas jantung paru (Cardio Pulmonary Bypass Machine/CPB).

Prosedur pembedahan dimulai dengan cara membuat sayatan (insisi) di dada sesuai dengan jenis pembedahan yang akan dilakukan. Pada prosedur transplantasi satu paru, sayatan akan dibuat mengikuti sela iga dada di sisi kiri/kanan dada sesuai dengan paru yang akan diangkat. Sementara pada transplantasi dua paru, sayatan akan dibuat di sela iga sepanjang seluruh bagian dada depan dari ketiak kiri hingga ketiak kanan dan menembus tulang dada (sternum).

Paru yang didonorkan diletakkan di dalam rongga dada menggantikan paru yang diangkat. Saluran napas dan pembuluh darah dari resipien akan disambungkan ke paru baru yang didonorkan. Jika prosedur berjalan lancar dan paru donor berfungsi dengan baik, sayatan di dada kemudian ditutup kembali dan dijahit.

Prosedur transplantasi paru adalah prosedur yang sangat lama, operasinya dapat berlangsung hingga 24 jam penuh. Hal ini karena pada dasarnya operasi transplantasi paru terdiri dari operasi pengambilan donor dan penanaman organ ke resipien. Belum lagi jika resipien dengan penyakit paru kronis terkadang parunya sangat lengket dengan dinding dada sehingga membutuhkan waktu ekstra untuk mengangkat parunya saja.

Setelah prosedur pembedahan selesai, resipien akan dirawat di ruang perawatan intensif atau intensive care unit (ICU) untuk dilakukan pemantauan ketat selama beberapa minggu. Jika kondisi resipien sudah membaik dan stabil, perawatan dapat dipindah ke ruang rawat biasa. Umumnya, setelah prosedur transplantasi membutuhkan waktu sekitar 1-3 minggu untuk pemulihan di rumah sakit. Setelah perawatan di rumah sakit, resipien juga perlu melakukan kontrol rutin untuk memastikan tidak ada respons penolakan dari tubuh terhadap paru donor, tidak ada infeksi ataupun permasalahan kesehatan lainnya.